Karakteristik Pasien Rinitis Alergi berdasarkan Skin Prick Test di Poliklinik THT RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar Tahun 2023/2024
Kata Kunci:
Rinitis AlergiAbstrak
Penyakit alergi merupakan kumpulan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat. Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis, yaitu akibat induksi oleh immunoglobulin E (IgE) yang spesifik terhadap alergen tertentu yang berkaitan dengan sel mast.1 Rinitis alergi adalah penyakit imunologi yang paling sering ditemukan. Gejala rinitis alergi dapat mempengaruhi kesehatan seseorang dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Penyakit ini bukan penyakit fatal tapi dapat menganggu kehidupan sehari-hari. Terdapat lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia menderita rinitis alergi.2,3 Rinitis alergi merupakan penyakit terkait IgE yang paling sering. Pasien dengan penyakit rinosinusitis, asma, hipertrofi adenoid, disfungsi tuba eustachius dan otitis media dapat timbul oleh karena adanya faktor resiko rinitis alergi.4
Prevalensi penyakit alergi terus meningkat secara dramatis di dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang, terlebih selama dua dekade terakhir. Diperkirakan lebih dari 20% populasi di seluruh dunia mengalami manifestasi alergi seperti asma, rinitis alergi (RA), rinokonjungtivitis, dermatitis atopi dan anafilaksis. WHO memperkirakan alergi terjadi pada 5-15% populasi anak di seluruh dunia. Studi yang dilakukan oleh International Study of Asthma and Allergy in Childhood (ISAAC) pada tahun 2002-2003 dilaporkan bahwa prevalensi asma bronkial, rinitis alergi (RA) dan dermatitis atopik cenderung meningkat di sebagian besar lembaga dibandingkan data 5 tahun sebelumnya.5
Pemeriksaan in vivo seperti skin prick test (SPT) dan immunoglobulin E (IgE) spesifik adalah pemeriksaan lini pertama untuk menilai sensitisasi IgE. Skin prick test adalah tes diagnostik in vivo terhadap alergen hirup dan makanan, untuk mendeteksi antigen yang terlibat dalam reaksi hipersensitifitas tipe-I yang dimediasi IgE.6 Pemeriksaan in vivo seperti skin prick test (SPT) dan immunoglobulin E (IgE) spesifik adalah pemeriksaan lini pertama untuk menilai sensitisasi IgE. Skin prick test adalah tes diagnostik in vivo terhadap alergen hirup dan makanan, untuk mendeteksi antigen yang terlibat dalam reaksi hipersensitifitas tipe-I yang dimediasi IgE.6 SPT adalah pemeriksaan yang mudah, relatif aman dan nyaman bagi pasien, serta terjangkau biayanya dibandingkan tes alergi untuk mendeteksi IgE lainnya seperti tes tusuk intradermal, tes provokasi-eliminasi dan Radioallergosorbent Test (RAST). SPT mempunyai sensitifitas sekitar 69-82% dan spesifisitas 44-52%. Tujuan pemeriksaan SPT adalah untuk mendeteksi adanya IgE spesifik terhadap alergen tertentu (alergen hirup dan makanan). SPT memberikan informasi keberadaan IgE spesifik terhadap protein dan peptida antigen atau yang dikenal dengan alergen. Hasil SPT yang positif kemudian dikonfirmasi relevansi klinisnya dari riwayat pasien.7
Penatalaksanaan rinitis alergi yang utama dan efektif adalah dengan cara menghindari alergen penyebab, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui alergen penyebabnya. Penanganan yang lain seperti farmakoterapi dilakukan untuk mencegah degranulasi sel mastosit, menetralisir mediator vasoaktif amine terutama mediator histamin, menghilangkan gejala pada organ target seperti pilek dan hidung tersumbat serta dengan pemberian imunoterapi. Sedangkan tindakan operasi kadang diperlukan untuk mengatasi komplikasi seperti sinusitis dan polip hidung.2,8
Berdasarkan latar belakang tersebut identifikasi jenis alergen penyebab alergi sangat penting terkait edukasi kepada pasien mengenai jenis alergen yang harus di hindari. Mengetahui alergen penyebab sangat menunjang keberhasilan terapi alergi sehingga peneliti ingin mengetahui gambaran skin prick test pada pasien yang datang ke poliklinik THT-BKL RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar.
