STUDI INDEKS ANTROPOMETRI PASIEN TINITUS DI POLIKLINIK THT-KL RSUP PROF. DR. I G. N. G. NGOERAH DENPASAR

Penulis

  • dr. I Gusti Ayu Putu Wahyu Widiantari Penulis

Kata Kunci:

ANTROPOMETRI PASIEN TINITUS

Abstrak

Tinitus didefinisikan sebagai persepsi adanya suara atau pendengaran tanpa adanya sumber suara fisik eksternal. Tinitus merupakan salah satu gejala yang paling sering ditemukan pada bidang otologi dengan tingkat prevalensi global diperkirakan mencapai 7-32%. Prevalensi tinitus ini meningkat seiring bertambahnya usia dengan puncaknya terjadi pada usia di atas 65 tahun.1 Prevalensi tinitus diperkirakan akan semakin meningkat dan mencapai dua kali lipat pada tahun 2050 karena adanya perubahan demografis dan peningkatan paparan kebisingan okupasional, terutama pada populasi usia muda.1,2

Tinitus dilaporkan berhubungan erat dengan tuli sensorineural yang menyebabkan penurunan fungsi pendengaran signifikan. Selain itu, meskipun sebagian besar tinitus bersifat ringan, sekitar 1-7% pasien tinitus mengalami gejala tinitus berat sehingga menyebabkan kualitas hidup yang buruk dan disabilitas bagi penderitanya. Oleh karena itu, tinitus membutuhkan deteksi serta tatalaksana yang cepat dan tepat.

 

Terlepas dari semua penelitian terkait tinitus, tatalaksana tinitus hingga saat ini masih menjadi suatu tantangan. Hal ini diduga karena tinitus cenderung bersifat multifaktorial dan membutuhkan pendekatan multidisipliner. Dengan demikian, pemahaman terkait faktor risiko tinitus akan sangat bermanfaat dalam upaya pencegahan dan penentuan tatalaksana optimal tinitus. Selain faktor usia dan faktor otologi, terdapat sejumlah faktor risiko tinitus yang dapat dimodifikasi, seperti kondisi psikologis, jenis pekerjaan, penyakit paru obstruktif kronis, diabetes melitus, konsumsi alkohol, dan hiperlipidemia.3,4

Indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang berhubungan dengan terjadinya sejumlah penyakit sistemik dan metabolik. Studi Yang dkk. membuktikan bahwa obesitas (OR 1,15, IK95% 1,01-1,30) dan lingkar pinggang yang lebih tinggi (OR 1,11, IK95% 1,01-1,22) juga berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko terjadinya penurunan fungsi pendengaran.5 Meskipun sebagian besar tinitus (terutama tinitus primer) berhubungan dengan terjadinya penurunan fungsi pendengaran (tuli), namun studi yang meneliti hubungan antara IMT dan lingkar pinggang sebagai faktor risiko tinitus masih sangat terbatas. Studi Torun dkk. mendapatkan bahwa pasien dengan tinitus memiliki rerata IMT yang secara signifikan lebih tinggi (obesitas) dibandingkan pasien tanpa tinitus (p<0,001).6 Namun, studi lainnya yang dilakukan oleh Lee dkk. justru menunjukkan hal yang berlawanan dimana justru perempuan dengan IMT yang rendah (underweight) memiliki risiko mengalami tinitus yang lebih tinggi (OR 1,54, IK95% 1,13-2,08) dan lingkar pinggang dilaporkan tidak berhubungan dengan kejadian tinitus (p=0,546).7 Selain itu, Biswas dkk. dan Marchiori dkk. justru menunjukkan bahwa IMT tidak berhubungan dengan kejadian tinitus (p>0,05).8,9 Hal ini menunjukkan bahwa hubungan IMT dan lingkar pinggang terhadap kejadian tinitus masih kontroversial dan terbatas. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui indeks antopometri (indeks massa tubuh dan lingkar pinggang) dari pasien tinitus di poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. I G. N. G. Ngoerah Denpasar.

Referensi

Diterbitkan

2025-01-03