KARAKTERISTIK PENDERITA YANG MENJALANI TRAKEOSTOMI DI BAGIAN/KSM THT-KL RSUP PROF. DR. I.G.N.G NGOERAH PERIODE 1 JANUARI 2021- 31 DESEMBER 2022
Kata Kunci:
TRAKEOSTOMI DI BAGIAN/KSM THT-KL RSUP PROF. DR. I.G.N.G NGOERAHAbstrak
Keadaan gawat darurat jalan napas dapat meningkatkan angka morbilitas dan morbiditas, oleh karena itu perlu dilakukan penilaian dan penanganan yang cepat, tepat, dan benar. Trakeostomi merupakan salah satu prosedur yang digunakan untuk mengatasi pasien dengan ventilasi yang tidak adekuat dan obstruksi jalan pernapasan bagian atas. Insisi yang dilakukan pada trakea disebut trakeotomi, sedangkan tindakan membuat stoma selanjutnya diikuti dengan pemasangan kanul trakea agar udara dapat masuk ke dalam paru-paru dengan menggunaan jalan pintas jalan napas bagian atas disebut trakeostomi. Trakeostomi dapat digunakan sementara yaitu jangka pendek untuk masalah akut, atau jangka panjang biasanya permanen dan selang dapat dilepas.1
Trakeostomi menurut pembagiannya dibedakan berdasarkan letak insisi, waktu tindakan, jenis insisinya serta teknik trakeostomi. berdasarkan letak insisinya, trakeostomi dibedakan letak tinggi dan letak rendah, berdasarkan waktu 2 maka trakeostomi dibagi menjadi trakeostomi darurat dan segera dengan persiapan sarana kurang dan trakeostomi elektif dengan persiapan sarana cukup. Sedangkan berdasarkan jenis insisinya yaitu insisi vertikal dan horizontal. 2 Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, berkembang pula teknik insisi trakea pada trakeostomi. Banyak studi dikembangkan untuk menganalisis teknik trakeostomi yang aman dan efektif, demi meminimalisir morbiditas. Teknik insisi trakea dibedakan menjadi vertikal, box, H-shape, cruciate, U-shape. 3
Trakeostomi merupakan suatu tindakan pembedahan umum yang telah banyak dilakukan di Amerika serikat didapatkan sebanyak 1.352.432 pasien dewasa yang menerima trakeostomi dari pada sebelas tahun terakhir atau sebanyak 9,1% serta hasil menunukan bahwa trakeostomi lebih sering terjadi pada pasien bedah, pria, dan ras /etnis 3-4
Intubasi endotrakeal yang berkepanjangan meningkatkan risiko cedera laring, dan pneumonia terkait ventilator sehingga trakeostomi lebih disukai daripada intubasi endotrakeal. Berdasarkan penelitian sebelumnya kelangsungan hidup orang yang menggunakan jalur pernafasan yang berbeda, dengan waktu pengamatan adalah > 4 tahun, didapatkan pasien dengan intubasi endotrakeal memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan trakeostomi. 3-4
