VALIDITAS KLASIFIKASI TIRADS DENGAN STATUS KEGANASAN PADA NODUL TIROID
Kata Kunci:
KLASIFIKASI TIRADS dan nodul tiroidAbstrak
Nodul tiroid merupakan suatu permasalahan yang sering ditemukan dalam masyarakat dengan angka kejadian yang semakin meningkat. Nodul tiroid secara pemeriksaan fisik diartikan sebagai suatu bagian kelenjar tiroid yangteraba dengan kontur dan konsistensi yang berbeda jika dibandingkan dengan tiroid normal.1 Nodul tiroid merupakan suatu lesi diskrit pada kelenjar tiroid, yang secara radiologi terlihat berbeda dari parenkim tiroid di sekitarnya.2 Sebanyak 5 hingga 10 persen nodul tiroid dapat diakibatkan oleh neoplasma, sedangkan sisanya diakibatkan oleh gangguan sistem imun dan gangguan metabolik. Nodul tiroid dapat dideteksi melalui palpasi kelenjar tiroid sekitar 4 hingga 8 persen populasi umum dan dapat dideteksi melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) sekitar 19 hingga 67 persen populasi umum.2,4
Sebanyak 200 juta penduduk di dunia dilaporkan mengalami nodul tiroid, dimana 5 hingga 10 persen lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan pada laki-laki. Pada tahun 2010, World Health Organization (WHO) melaporkan sebanyak 44.670 kasus baru nodul tiroid, dan sebanyak 1.690 orang dilaporkan meninggal tiap tahunnya. Perempuan beresiko 3 hingga 4 kali mengalami nodul tiroid dibandingkan dengan pria. Kanker tiroid termasuk dalam sepuluh keganasan tersering di Indonesia, diperkirakan lebih dari 10 juta penduduknya menderita nodul tiroid. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Boedisantoso di RSUPN-CM Jakarta tahun 2018, kejadian nodul tiroid sekitar 50,3%. Prevalensi nodul tiroid
akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia, defisiensi iodium dan keterpajanan radiasi pengion. Lebih dari 90% nodul tiorid merupakan jinak dan tidak membutuhkan terapi khusus, namun sekitar 5% dari nodul tiroid bersifat ganas dan membutuhkan deteksi dini serta penanganan yang lebih komprehensif.
Modalitas utama dalam mengevaluasi nodul tiroid adalah USG tiroid. Dengan menggunakan USG, nodul tiroid tampak sebagai lesi noduler di dalam kelenjar tiroid yang dapat dibedakan dengan parenkim sekitarnya. Dengan pemeriksaan USG dapat terlihat lokasi, ukuran, komposisi, ekogenisitas, batas, kalsifikasi, dan vaskularisasi. USG tiroid dianggap sebagai modalitas terpilih karena tidak bersifat invasif, tersedia di hampir semua pelayanan kesehatan, biaya relatif tidak mahal, mudah digunakan, paparan radiasi rendah, nilai akurasi untuk mendiagnosis yang cukup tinggi, serta tidak memiliki kontraindikasi apapun.
Beberapa penelitian menyimpulkan akurasi diagnostik ultrasonografi tiroid untuk nodul tiroid. Kwak et al. pada tahun 2011 mengajukan modifikasi Thyroid Imaging Reporting and Data System (TIRADS) yang lebih sederhana berdasarakan lima kriteria morfologis nodul tiroid yang memiliki hubungan kuat dengan keganasan. Terdapat beragam variasi klasifikasi TIRADS lain di seluruh dunia yang memiliki keunggulan tersendiri. Adapun tujuan dari klasifikasi TIRADS yaitu mendeteksi keganasan tiroid, serta mengurangi biopsi tiroid yang tidak diperlukan. Gold standard dalam mendiagnosis nodul tiroid adalah pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan histopatologi merupakan rujukan akhir yang digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid bersifat benigna atau maligna. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengamati perubahan sel dan perubahan jaringan yang diambil pasca operasi. 8,9,10
Kovacheva dkk. melaporkan bahwa gambaran nodul tiroid yang bersifat jinak gambarannya berbentuk oval, hiperekoik atau isoekoik dengan tepi nodul reguler. Berdasarkan laporan Gilles dkk. Gambaran nodul tiroid yang bersifat jinak gambarannya berupa kista murni/anekoik dan nodul spongiform seluruhnya. Berdasarkan laporan Remonti dkk. Gambaran nodul tiroid yang mengarah ke suatu keganasan adanya gambaran mikrokalsifikasi, tepi irreguler, bentuknya lebih tinggi dibandingkan lebar dan hipoekoik. Kemudian Campanella dkk, juga melaporkan adanya temuan serupa, yaitu bentuknya lebih tinggi dari lebar, tidak adanya tanda
halo, mikrokalsifikasi, tepi irreguler dan hipoekoik. Dari penelitian yang di dilakukan diatas, hasil dari penelitian tersebut sangat berkorelasi kuat dengan diagnosis nodul tiroid jinak atau ganas.
Uji klasifikasi TIRADS telah banyak dilakukan dengan konfirmasi pemeriksaan sitologi FNAB dan histopatologis biopsi pasca operasi. Klasifikasi TIRADS saat ini masih terus bekembang dan penggunaannya sudah mulai digunakan, namun belum digunakan secara rutin. Penggunaan klasifikasi TIRADS sebagai standar pelaporan hasil pemeriksaan USG tiroid di indonesia diharapkan meningkatkan peran USG tiroid untuk membedakan nodul tiroid jinak atau ganas dan membantu untuk deteksi dini dan menegakkan diagnosis sebelum dilakukan tatalaksana agar dapat memberikan nilai terapi dan prognosis terbaik bagi pasien.
