HUBUNGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN RISIKO OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA DI RSUP PROF. DR. I.G.N.G. NGOERAH DENPASAR

Penulis

  • dr. Felicia Yumita Winata Penulis

Kata Kunci:

DIABETES MELLITUS TIPE 2 dengan OSAS

Abstrak

Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah kelainan yang merupakan bagian dari sleep disorder breathing syndrome yang kompleks. Sebenarnya gejala OSA sering terjadi, namun sulit untuk dideteksi. Penyakit ini dapat terjadi 3-7% pria dan 2-5% wanita pada populasi umum.1 OSA merupakan gangguan tidur yang ditandai oleh gangguan pola napas selama tidur, di mana terjadi henti napas selama tidur yang berlangsung selama lebih dari 10 detik.2 Episode berhenti bernapas kurang dari sepuluh detik yang disebabkan oleh obstruksi parsial maupun menyeluruh pada saluran napas bagian atas.3

Menurut American Academy of Sleep Medicine, hal tersebut terjadi ketika otot-otot rileks selama tidur menyebabkan kelumpuhan jaringan lunak dan menghalangi jalan napas atas yang kemudian menyebabkan pengurangan sebagian (hipopneas) dan jeda lengkap (apnea) bernapas yang berlangsung setidaknya 10 detik saat tidur. Episode ini biasanya disertai dengan dengkuran keras dan hipoksemia, dan biasanya diakhiri dengan terbangun secara berulang, yang menyebabkan fragmentasi tidur.4 Beberapa dekade terakhir ini banyak penelitian mengatakan bahwa kualitas hidup dipengaruhi oleh Obstructive Sleep Apnea (OSA). Pada tahun 2002, Lacasse, Godbout, dan Series melakukan penelitian dengan judul Health-Related Quality of Life in Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang bertujuan untuk menggambarkan dampak dari OSA pada kualitas hidup pasien. Dari penelitian itu didapatkan hasil bahwa secara signifikan OSA memberikan kontribusi terhadap penurunan dari semua domain kualitas hidup terkait kesehatan. Domain-domain yang ada yaitu tentang fungsi sehari-hari, fungsi emosional, interaksi sosial dan gejala siang hari serta gejala noktural.2

Faktor penyebab OSA dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor struktural dan nonstruktural dimana kedua bagian itu didalamnya sudah termasuk faktor genetik. Kelainan struktural OSA berupa kelainan tulang kepala atau tulang pipi dan penyempitan hidung akan berdampak pada penyempitan aluran napas atas. Sedangkan etiologi nonstruktural dipengaruhi perubahan refleks neurologis yang mengontrol otot-otot pernapasan jalan napas atas, distribusi jaringan lemak di leher, obesitas, kerusakan karena kebiasaan merokok, serta alkoholisme.1,2

Diabetes Mellitus (DM) merupakan masalah serius dengan angka kejadian yang meningkat tajam. DM dapat menyerang hampir semua golongan masyarakat di seluruh dunia. Jumlah penderita DM terus bertambah dari tahun ke tahun karena pola hidup manusia zaman sekarang yang cenderung jarang bergerak dan pola makan yang tidak sehat.1

Menurut WHO, pada tahun 2014, jumlah DM 8,5% dari orang dewasa berusia 18 tahun dan lebih tua menderita DM. Pada tahun 2012 DM menjadi penyebab utama dari 1,5 juta kematian. Pada tahun 2014, Indonesia memiliki sekitar 9,1 juta penyandang  DM. Ini merupakan jumlah terbanyak kelima di dunia. Menurut Riset Kesehatan Dasar  (RISKESDAS) tahun 2013, diperkirakan 40.772 dari 1.698831 orang yang berusia 15 tahun ke atas di Sulawesi Utara didiagnosis DM, sedangkan 20.836 lainnya belum pernah didiagnosis menderita DM oleh dokter tetapi mengalami gejala DM pada satu bulan terakhir.2

Prevalensi OSA pada pasien dengan DM tipe 2 meningkat seiring dengan berjalannya usia. Obesitas dikaitkan sebagai faktor utama terjadinya OSA, terutama pada pasien DM dengan kontrol glikemik yang buruk. OSA juga disebutkan dapat menyebabkan gangguan metabolisme glukosa pada pasien dengan DM tipe 2. Gangguan tidur dapat menyebabkan hipoksia yang menurunkan sensitivitas insulin pasien. Efek hipoksia juga meningkatkan inflamasi sistemik dan menurnkan adiponektin sehingga tidak berfungsinya sel beta pankreas yang memperberat kondisi pasien DM tipe 2. Tingginya prevalensi obesitas pada pasien DM tipe 2 merupakan salah satu faktor risiko yang memicu terjadinya gejala OSA, dimana terjadi penyempitan saluran napas bagian atas sehingga meningkatkan risiko kolapsnya saluran napas akibat penumpukan lemak.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik melakukan  screening mengenai risiko OSA pada pasien dengan DM tipe 2 dengan Kuesioner Berlin di Poliklinik THT dan Poliklinik Diabetes RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar.

Referensi

Diterbitkan

2025-01-07