Gambaran Darah Tepi Pada Pasien Kanker Nasofaring Sebelum dan Sesudah Kemoterapi (Regimen Kombinasi Karboplatin dan Docetaxel) di PoliklinikTHT – KL RS Prof.dr.IGNG Ngoerah Denpasar
Kata Kunci:
Kanker NasofaringAbstrak
Kanker merupakan penyebab kematian di negara berkembang dan di negara maju. Pada tahun 2012 insiden kanker di seluruh dunia mencapai 14,1 miliar dan mortalitasnya mencapai 8,2 miliar. Di negara berkembang insiden kanker mencapai65
% dan mortalitasnya mencapai 57 %. Negara – negara di Asia Tenggaramerupakan negara berkembang. Insiden kanker di Asia Tenggara mencapai 138,2 per 100.000 penduduk, lebih tinggi pada laki-laki 147,6 per 100.000 penduduk, danmortalitasnya mencapai 94,8 per 100.000 penduduk.1
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar yang disingkat Riskesdas tahun 2007 prevalensi tumor dan kanker di Indonesia 4,3 % , hal ini meningkat pada usia yanglebih tinggi (9,4 %), dan sering terjadi pada wanita (5,7 %).3 Sedangkan pada Riskesdas tahun 2013 prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4 %.5 Penurunanprevalensi dari hasil Riskesdas tahun 2007 dan Riskesdas 2013, dikarenakan diagnosa kanker di Riskesdas tahun 2007 dilakukan oleh tenaga kesehatan dan tidakdibedakan antara jinak ataupun ganas, sedangkan pada Riskesdas 2013 diagnosa dilakukan oleh dokter dan
khusus untuk keganasan. Karsinoma Nasofaring merupakan tumor ganas kepala dan leher yang banyak ditemukan di dunia. Pada tahun 2012, insiden karsinoma nasofaring mencapai 86.700 dan mortalitasnya mencapai 50.800 di seluruh dunia.1 Di dunia, prevalensi karsinoma nasofaring tertinggi dan penyebab kematian terberat di daerah Cina Selatan sekitar 20 - 40 per 100.000 penduduk.8
Perubahan darah tepi pada pasien karsinoma nasofaring (KNF) setelah kemoterapi, dimana kemoterapi menyebabkan depresi pada sumsum tulang dan mempengaruhi sistem hematopoetik, sehingga menyebabkan penurunan sel darah.14 Sehingga pemberian kemoterapi akan menyebabkan perubahan gambaran darah tepi yang nyata.
Gambaran darah tepi mencakup leukosit, trombosit, hemoglobin, dan hitung jenis leukosit, salah satunya neutrofil. Pada penelitian yang di lakukan oleh Zaidar, kadar hemoglobin sebelum dan sesudahradiokemoterapi terjadi penurunan, tetapi tidak terlalu signifikan, hal ini mungkin dikarenakan asupan gizi dari pihak rumah sakit maupun makanan yang dikonsumsi pasien selama proses radiokemoterapi sangat baik.15 Maka dari itu, penelitian mengenai gambaran darah tepi pada pasien KNF di Poliklinik THT – KL RSUP Prof. dr. IGNG Ngoerah untuk melihat kadar hemoglobin dankejadian infeksi yang berefek pada kadar leukosit dan hitung jenis leukosit,dan resiko pendarahan yang timbul akibat penurunan kadar trombosit.
