KARAKTERISTIK BENDA ASING ESOFAGUS DI RSUP PROF DR I.G.N.G NGOERAH DENPASARPERIODE 2011 – 2020
Kata Kunci:
KARAKTERISTIK BENDA ASING ESOFAGUSAbstrak
Benda asing esofagus adalah tersangkutnya benda asing, baik makanan ataupun bukan, di dalam lumen esofagus, dan merupakan suatu kegawat daruratan di bidang Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher (THT-KL). Kasus benda asing esofagus dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering ditemukan pada anak- anak. Insiden pasti benda asing esofagus tidak diketahui dengan pasti, namun diperkirakan terjadi 13 per 100.000 penduduk.1,2
Lokasi tersangkutnya benda asing esofagus umumnya pada penyempitan alamiah esofagus tersebut, terutama tepat di bawah penyempitan pertama atau setinggi krikofaring. Sisanya pada penyempitan daerah torakal dan hiatus diafragmatika. Penyempitan patologis juga menjadi tempat tersangkutnya benda asing.1,3
Gejala benda asing esofagus bervariasi tergantung usia pasien dan karakteristik benda asingnya. Pasien dewasa umumnya mengeluh kesulitan menelan, nyeri saat menelan, rasa mengganjal di tenggorok/ leher, dan peningkatan produski saliva. Anamnesis pada pasien anak-anak yang lebih kecil dan bayi umumnya lebih sulit dilakukan karena mereka belum dapat mengutarakan keluhan yang mereka alami, sehingga heteroanamnesis pada orang tua atau pengasuhnya sangat diperlukan.4,5
Penegakan diagnosis benda asing esofagus dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis dan penunjang. Tes minum merupakan tes sederhana untuk menilai adanya benda asing di esofagus. Pemeriksaan radiologi, berupa foto polos posisi anterior-posterior (AP) dan lateral dan CT-scan, dapat dengan segera menunjukkan adanya korpus alienum di esofagus, terutama benda asing yang bersifat radioopak. Benda asing radiolusen umumnya tidak tampak secara langsung, namun dapat dinilai keberadaannya dari gambaran jaringan sekitar esofagus.2,3
Sekitar 80-90% benda asing esofagus dapat turun melewati lambung dan keluar bersama dengan feses tanpa kejadian yang bermakna, sedangkan 10-20% sisanya dapat tersangkut di lumen lumen esofagus yang memerlukan tindakan endoskopi. Tindakan pembedahan hanya diperlukan pada sekitar 1% kasus benda asing esofagus. Pilihan utama penatalaksanaan benda asing esofagus saat ini adalah ekstraksi menggunakan esofagoskopi rigid dan forsep, sedangkan pembedahan seperti transservikal/ transtorakal esofagotomi dilakukan pada kasus yang tidak tertangani dengan esofagoskopi.2,4
Komplikasi pada kasus benda asing esofagus dapat diakibatkan oleh benda asing tersebut atau pun akibat tindakan yang dilakukan, seperti ekskoriasi, laserasi, perforasi, infeksi, abses, mediastinitis, hingga kematian. Tingkat mortalitas pada kasus-kasus tertelannya benda asing sangat rendah, namun karena banyaknya kasus yang terjadi, diperkirakan 1500-2750 orang meninggal tiap tahunnya di Amerika Serikat akibat tertelannya benda asing.2,5
Data mengenai karakteristik kasus-kasus benda asing esofagus di Indonesia, khususnya Bali masih sedikit. Data yang terkumpul dapat dijadikan untuk menyusun kebijakan penanganan kasus-kasus benda asing esofagus. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik benda asing esofagus di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar pada periode 2011 hingga 2020.
