Hubungan Antara Laryngopharyngeal refluk dengan Rinosinusitis Kronis Pada Pasien Poliklinik THT-KL RSUP Sanglah Tahun 2021

Penulis

Kata Kunci:

Hubungan Antara Laryngopharyngeal refluk dengan Rinosinusitis Kronis

Abstrak

Laryngopharyngeal refluk (LPR) merupakan aliran balik cairan isi lambung ke laringofaring, hypofaring, trakea-bronkus dan kadang mencapai area hidung-sinus dan telinga1. Gejala klinis LPR terjadi akibat refluksat asam hidrokhlorik dan pepsin yang mencederai mukosa laring faring. Kejadian LPR dilaporkan teridentifikasi dan terdiagnosis sekitar 10% dari seluruh pasien yang datang kedokter THT2, prevalensi LPR sebesar 15-20 % dan sekitar 50% pasien dengan suara serak memiliki LPR.3 Belafsky dalam penelitiannya mengembangkan kuisioner Refluk Symptom Index (RSI) yang dijadikan sebagai parameter diagnosis dan evaluasi terapi LPR. Refluk Symptom Index (RSI) menggunakan nilai 0 (tidak ada keluhan) sampai 5 (keluhan berat) dengan nilai maksimum 45. RSI menunjukkan reproduktivitas dan validitas tinggi untuk diagnosis LPR jika skor RSI >13, dikategorikan abnormal. Reproduktivitas dan validitas tinggi RSI meningkat karena ketepatan nya dalam menilai perbaikan gejala LPR.3 Kuisioner RSI lebih mudah dilakukan dan perbaikan yang ditimbulkan lebih cepat dibanding diagnosis menggunakan temuan pemeriksaan fisik sehingga digunakan sebagai evaluasi terapi.4

Rinosinusitis merupakan inflamasi pada mukosa kavum nasi dan sinus paranasalis yang dapat bersifat akut maupun kronis serta memberikan dampak pada kualitas hidup penderitanya. Rinosinusitis dapat terjadi karena multifaktorial antara lain disebabkan karena alergi, abnormalitas pada anatomi ataupun gangguan pada mukosilia, sehingga akan memudahkan terjadinya infeksi pada saluran pernapasan oleh bakteri, virus, alergen ataupun bahan iritan lainnya. 19

Berdasarkan lamanya perjalanan penyakit rinosinusitis dibedakan menjadi akut bila berlangsung selama < 12 minggu dan kronik bila berlangsung selama ≥ 12 minggu. Beberapa literatur juga membagi rinosinusitis menjadi rinosinusitus dengan polip nasal, tanpa polip nasal dan rinosinusitis alergi fungal.

Sino-Nasal Outcome Test-22 (SNOT-22) merupakan modifikasi dari Sino- Nasal Outcome Test-20 (SNOT-20). Kuesioner SNOT-22 ini terdiri dari 22 pertanyaan yang harus di nilai oleh pasien sesuai dengan beratnya gejala dan diisi sendiri oleh pasien. Saat ini, kuesioner SNOT-22 adalah kuesioner spesifik terbaik yang dapat diterapkan untuk menilai kualitas hidup pasien rinosinusitis kronis.

Referensi

Diterbitkan

2025-01-13