PREVALENSI RINITIS ALERGI DAN POLA ALERGEN BERDASARKAN HASIL TES CUKIT KULIT DI POLI THT-KL RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2021
Kata Kunci:
PREVALENSI RINITIS ALERGIAbstrak
Rinitis alergi adalah penyakit imunologi yang paling sering ditemukan. Gejala rinitis alergi dapat mempengaruhi kesehatan seseorang dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Penyakit ini bukan penyakit fatal tapi dapat menganggu kehidupan sehari-hari. Terdapat lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia menderita rinitis alergi. Berdasarkan studi epidemiologi kejadian rinitis alergi dipekirakan secara konstan meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. Prevalensi rinitis alergi di Eropa berkisar antara (17% - 28,5%), (10%) kasus di Jepang, (20%) kasus di Thailand, (10-15%) kasus di Korea dan (25 %) kasus di New Zealand. 1,2
Prevalensi rinitis alergi di Indonesia diperkirakan berkisar antara 10 - 20% dan secara konstan meningkat. Usia rata-rata onset rinitis alergi adalah 8 - 11 tahun dan 80% rinitis alergi berkembang dengan usia 20 tahun. Penelitian Baratawidjaja di suatu daerah di Jakarta mendapatkan prevalensi sebesar (23,7%), sedangkan Penelitian Madiadipoera di Bandung memperoleh prevalensi sebesar (1,5%). Berdasarkan data Riskesdas Bali (2007) kejadian rinitis alergi di Bali mencapai (13,8%). Kabupaten Buleleng memiliki prevalensi tertinggi yaitu (19,6)% diikuti oleh Kabupaten Bangli (19,0%), Denpasar (20,3%) dan Kabupaten Badung (15,7%). Berdasarkan data kunjungan RSUP Sanglah Denpasar Poliklini THT-KL tahun 2020 didapatkan prevalensi rinitis alergi sebesar (24,5%).2,3
Rinitis alergi dapat dipicu oleh beberapa jenis alergen yaitu komponen udara yang dihirup maupun dari makanan yang dikonsumsi. Pada kasus rinitis alergi, yang termasuk dalam alergen adalah tungau debu rumah, bulu anjing, bulu kucing, kecoa dan alergen makanan laut. Penelitian Zainuddin di Palembang menemukan hasil tes cukit kulit yang diperoleh dari 23 penderita rinitis alergi dengan reaksi positif terhadap alergen D.Pteronysinus house dust pada 20 penderita (86,95%), lobster pada masing-masing 19 penderita (82,95%), kemudian alergen kepiting pada 18 penderita (78,26%) dan alergen bulu kucing juga udang masing-masing pada 16 penderita (69,56%).3
Penatalaksanaan rinitis alergi yang utama dan efektif adalah dengan cara menghindari alergen penyebab, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui alergen penyebabnya. Penanganan yang lain seperti farmakoterapi dilakukan untuk mencegah degranulasi sel mastosit, menetralisir mediator vasoaktif amine terutama mediator histamin, menghilangkan gejala pada organ target seperti pilek dan hidung tersumbat serta dengan pemberian imunoterapi. Sedangkan tindakan operasi kadang diperlukan untuk mengatasi komplikasi seperti sinusitis dan polip hidung.1,3
Sehubungan dengan pernyataan dan alasan yang dikemukakan diatas sehingga mendorong saya melakukan penelitian untuk mengetahui prevalensi dan pola alergen pada penderita rinitis alergi yang datang ke Poli THT-KL RSUP Sanglah Denpasar tahun 2021.
