Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis yang Telah Menjalani Tonsilektomi di RSUP Sanglah Denpasar Periode Januari 2019 - September 2021
Kata Kunci:
Karakteristik Penderita Tonsilitis KronisAbstrak
Tonsil adalah salah satu organ pertahanan tubuh utama yang terdapat pada saluran napas atas. Peradangan pada tonsil disebut juga tonsilitis dapat bersifat akut yang jika tidak mengalami penyembuhan sempurna dapat berkembang menjadi tonsilitis kronis. Di Indonesia, tonsilitis kronis merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi dari seluruh penyakit di bidang Telinga Hidung Tenggorokan dan Kepala-Leher (THT-KL). Angka kejadian tonsilitis kronis dari tahun ke tahun cukup tinggi.1,2
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2013 didapatkan dari 287.000 anak dibawah 15 tahun, sebanyak 248.000 (86,4%) mengalami tonsiloadenoidektomi dan 39.000 (13,6%) lainnya menjalani tonsilektomi. Menurtu Departemen Kesehatan RI pada tahun 2010, angka kejadian penyakit tonsillitis di Indonesia sekitar 23%. Berdasarkan data epidemiologi di tujuh provinsi mengenai penyakit THT di Indonesia. Hasil pemeriksaan yang ditemui pada anak-anak menunjukkan banyaknya penyakit THT penduduk di Indonesia berjumlah 190-230 per 1.000. Dan didapati 38,4% diantaranya merupakan penderita yang mengalami penyakit tonsilitis kronik dan prevalensi tonsilitis kronik 3,8% tertinggi setelah infeksi nasofaringitis akut 4,6%.1,2
Data pada tahun 2010 di RSUP DR. M. Djamil Padang di bagian THT-KL sub-bagian laring faring ditemukan insiden tonsilitis sebanyak 465 dari 1.110 kunjungan di Poliklinik sub bagian laring faring dan yang menjalani tonsilektomi
sebanyak 163 kasus. Keluhan utama yang dialami penderita tonsilitis kronis beragam karena gejala tonsilitis kronis bervariasi, gejala lokal yaitu rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat adanya pembesaran ukuran tonsil sehingga ada rasa mengganjal di tenggorok, susah menelan dan nyeri atau sakit menelan karena radang tonsil yang berulang. Gejala sistemik dapat berupa rasa tidak enak badan, nyeri kepala, demam, nyeri otot dan persendian. Gejala klinis yaitu tonsil dengan kripta melebar, plika tonsilaris anterior hiperemis, pembengkakan kelenjar limfe regional dan hipertrofi tonsil yang dapat menyebabkan obstructive sleep apnea (OSA) dengan gejala mendengkur/ mengorok ketika tidur, terbangun tiba-tiba karena sesak atau henti nafas, sering mengantuk, gelisah, perhatian berkurang dan prestasi belajar menurun.1,2,3,4
Tonsilektomi merupakan prosedur operasi untuk pengobatan tonsillitis kronis yang praktis dan aman. Data nasional mengenai jumlah operasi tonsilektomi di Indonesia sampai saat ini belum ada. Di Rumah Sakit Fatmawati didapatkan data bahwa pada tahun 2002-2004 menunjukkan kecenderungan kenaikan jumlah operasi tonsilektomi. Data dari RSUD Raden Mattaher Jambi terdapatpeningkatan jumlah penderita tonsilitis kronis yang diindikasikan tonsilektomi pada tahun 2010- 2011 yaitu sebanyak 44 orang di tahun 2010 dan 58 orang di tahun 2011. Berdasarkan data survei di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung didapatkan kasus tonsilektomi pada tahun 2018 – 2019 sebanyak 92 kasus, dengan masing – masing 40 kasus pada tahun 2018, 52 kasus pada tahun 2019. Tonsilitis kronis merupakanpenyakit yangmasih menjadimasalah kesehatan utama di bidang THT-KL dimana tonsilektomi menjadi pilihan terbaik dalam penatalaksaannya dan harus disesuaikan dengan indikasinya baik absolut maupun relatif.1,2,3,5
Berdasarkan latar belakang tersebut, makapeneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik penderita tonsilitis kronis yang telah menjalani tonsilektomi di RSUP Sanglah Denpasar periode Januari 2019 – September 2021.
