KARAKTERISTIK FAKTOR RESIKO PADA PENDERITA KARSINOMA NASOFARING DI RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE JULI – SEPTEMBER 2021
Kata Kunci:
KARAKTERISTIK FAKTOR RESIKO PADA PENDERITA KARSINOMA NASOFARINGAbstrak
Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan keganasan kepala leher yang paling banyak di Indonesia dan menempatkannya sebagai yang keempat tersering di antara semua keganasan di Indonesia. Di Indonesia diperkirakan kejadian KNF sebesar 6,2 per 100.000 penduduk atau 12.000 kasus baru per tahun. Penderita KNF dapat terjadi pada semua umur, rata-rata penderita KNF berumur 45-55 tahun dengan kejadian 23,3 kasus/100.000 laki-laki dan 8,9 kasus/100.000 perempuan. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 2-3:1. Insidensi terbanyak terjadi di Cina Selatan terutama Guangzhou, Hongkong, dan Taiwan sebagai daerah endemis KNF yang mencapai 10-150 kasus dari 100.000 penduduk.1
Mirip dengan penyakit kronis lainnya, KNF menghadirkan banyak tantangan yang lebih dari sekadar mengobati penyakitnya. Stadium awal dari KNF sulit untuk ditegakkan karena lokasi dari nasofaring yang tersembunyi. Kesalahan diagnosis sering terjadi akibat kurangnya pengetahuan tentang gejala dan tanda awal dari karsinoma nasofaring. Keganasan ini dimanifestasikan dengan berbagai tanda dan gejala non spesifik meskipun insidennya tinggi, kesadaran dokter terhadap KNF tidak memadai, berpotensi menyebabkan banyak yang terlambat atau terlewat terdiagnosis. Banyak kasus dirujuk ke rumah sakit pada stadium lanjut.1,2 Mengetahui gambaran penderita karsinoma nasofaring di RSUP Sanglah menjadi penting karena dapat digunakan sebagai acuan dalam mendiagnosis secara dini sehingga dapat memberikan terapi yang tepat pada penderita karsinoma nasofaring.
