HUBUNGAN RISIKO OBSTRUCTIVE SLEEP APNEADENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI POLI THT-KL RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE JUNI - AGUSTUS 2021
Kata Kunci:
HUBUNGAN RISIKO OBSTRUCTIVE SLEEP APNEADENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI POLI THT-KL RSUP SANGLAAbstrak
Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah kelainan yang merupakan bagian dari sleep disorder breathing syndrome yang kompleks. Sebenarnya gejala OSA sering terjadi, namun sulit untuk dideteksi. Penyakit ini dapat terjadi 3-7% pria dan 2-5% wanita pada populasi umum.1 OSA merupakan gangguan tidur yang ditandai oleh gangguan pola napas selama tidur, di mana terjadi henti nafas selama tidur yang berlangsung selama lebih dari 10 detik.2 Episode berhenti bernafas kurang dari sepuluh detik yang disebabkan oleh obstruksi parsial maupun menyeluruh pada saluran nafas bagian atas.3
Menurut American Academy of Sleep Medicine, hal tersebut terjadi ketika otot-otot rileks selama tidur menyebabkan kelumpuhan jaringan lunak dan menghalangi jalan nafas atas yang kemudian menyebabkan pengurangan sebagian (hipopneas) dan jeda lengkap (apnea) bernafas yang berlangsung setidaknya 10 detik saat tidur. Episode ini biasanya disertai dengan dengkuran keras dan hipoksemia, dan biasanya diakhiri dengan terbangun secara berulang, yang menyebabkan fragmentasi tidur.4 Beberapa dekade terakhir ini banyak penelitian mengatakan bahwa kualitas hidup dipengaruhi oleh Obstructive Sleep Apnea (OSA). Pada tahun 2002, Lacasse, Godbout, dan Series melakukan penelitian dengan judul Health-Related Quality of Life in Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang bertujuan untuk menggambarkan dampak dari OSA pada kualitas hidup pasien. Dari penelitian itu didapatkan hasil bahwa secara signifikan OSA memberikan kontribusi terhadap penurunan dari semua domain kualitas hidup terkait kesehatan.
Domain-domain yang ada yaitu tentang fungsi sehari-hari, fungsi emosional, interaksi sosial dan gejala siang hari serta gejala noktural.2
Faktor penyebab OSA dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor struktural dan nonstruktural dimana kedua bagian itu didalamnya sudah termasuk faktor genetik. Kelainan struktural OSA berupa kelainan tulang kepala atau tulang pipi dan penyempitan hidung akan berdampak pada penyempitan saluran nafas atas. Sedangkan etiologi nonstruktural dipengaruhi perubahan refleks neurologis yang mengontrol otot-otot pernafasan jalan nafas atas, distribusi jaringan lemak di leher, obesitas, kerusakan karena kebiasaan merokok, serta alkoholisme.1,2
OSA dapat menyebabkan meningkatnya aktivitas saraf simpatis yang jika berulang kali akan menyebabkan hipertensi. Satu dari penderita hipertensi juga menderita OSA dan 80% penderita hipertensi yang resisten terhadap pengobatan juga menderita OSA.1
OSA juga meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit kardiovaskuler hingga lima kali lipat.1 Selain itu beberapa dekade terakhir OSA sering dikaitkan dengan hipertensi.
Kejadian OSA dapat dicegah melalui skrining risiko OSA dengan menggunakan kuesioner berlin.5 Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui pengaruh risiko Obstructive Sleep Apnea terhadap kejadian hipertensi di poli THT-KL RSUP Sanglah Denpasar periode Juni - Agustus 2021.
