Perbandingan Kualitas hidup pada pasien Rinosinusitis Kronis berdasarkan SNOT-22 sebelum dan sesudah pemberian irigasi nasal salin di RSUP Sanglah Denpasar

Penulis

Kata Kunci:

Perbandingan Kualitas hidup pada pasien Rinosinusitis Kronis berdasarkan SNOT-22 sebelum dan sesudah pemberian irigasi nasal salin di RSUP Sanglah Denpasar

Abstrak

Rinosinusitis merupakan inflamasi pada mukosa kavum nasi dan sinus paranasalis yang dapat bersifat akut maupun kronis serta memberikan dampak pada kualitas hidup penderitanya. Rinosinusitis dapat terjadi karena multifaktorial antara lain disebabkan karena alergi, abnormalitas pada anatomi ataupun gangguan pada mukosilia, sehingga akan memudahkan terjadinya infeksi pada saluran pernapasan oleh bakteri, virus, alergen ataupun bahan iritan lainnya. 1

Berdasarkan lamanya perjalanan penyakit rinosinusitis dibedakan menjadi akut bila berlangsung selama < 12 minggu dan kronik bila berlangsung selama ≥ 12 minggu. Beberapa literatur juga membagi rinosinusitis menjadi rinosinusitus

dengan polip nasal, tanpa polip nasal dan rinosinusitis alergi fungal.2

Rinosinusitis akut yang tidak ditangani dengan baik dapat berlanjut menjadi rinosinusitis kronik. Rinosinusitis kronik dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup akibat gejala lokal seperti sakit kepala, hidung tersumbat, gangguan penciuman, gangguan tidur serta gejala pilek  yang persisten sehingga dapat

menurunkan produktifitas penderita dan dapat menyebabkan kehilangan hari kerja.3

Rinosinusitis kronis sampai sekarang masih menjadi salah satu masalah kesehatan baik di negara berkembang maupun negara maju dengan prevalensi yang tinggi dan memberikan dampak dalam berbagai aspek meliputi kualitas hidup dan sosioekonomi. Rinosinusitis kronis terjadi sebanyak 12,5% dari

 

2

populasi penduduk Amerika atau 31 juta penderita per tahun.                                                                                    Menurut analisis

National Health Interview Data tahun 2008, rinosinusitis rata – rata terjadi pada 1 dari 7 orang dewasa.2 Pada Poliklinik THT-KL RSUD Dr.Moewardi Surakarta didapatkan angka rinosinusitis kronis tercatat sepanjang tahun 2014 adalah sebanyak 204 kasus (13,1%) dari 1567 pasien rawat jalan.4

Rinosinusitis yang tidak ditangani akan menyebabkan komplikasi seperti

infeksi ke mata berupa selulitis orbita, abses orbita, penyebaran infeksi ke bronkopulmoner dan infeksi menjalar ke otak sehingga menyebabkan meningitis.

3

Maka dari itu diperlukan penanganan yang adekuat.  Sampai saat ini penanganan

rinosinusitis dibagi menjadi penanganan konservatif dan pembedahan. Penanganan konservatif yang bisa dilakukan pada pasien dengan rinosinusitis adalah dengan pemberian irigasi nasal salin.

Untuk mengetahui keberhasilan dari pemberian irigasi nasal salin, dilakukan evaluasi secara subyektif maupun obyektif. Evaluasi subyektif dilakukan dengan menilai kualitas hidup pasien dengan rinosinusitis kronis pada saat sebelum dan sesudah pemberian irigasi nasal salin.

Sino-Nasal Outcome Test-22 (SNOT-22) merupakan modifikasi dari Sino- Nasal Outcome Test-20 (SNOT-20). Kuesioner SNOT-22 ini terdiri dari 22 pertanyaan yang harus di nilai oleh pasien sesuai dengan beratnya gejala dan diisi sendiri oleh pasien. Saat ini, kuesioner SNOT-22 adalah kuesioner spesifik terbaik yang dapat diterapkan untuk menilai kualitas hidup pasien rinosinusitis kronis. Oleh karena itu perlu diteliti perbandingan SNOT-22 (Sino – Nasal Outcome Test – 22) pada pasien rinosinusitis kronis, sebelum dan sesudah pemberian irigasi nasal salin di RSUP Sanglah Denpasar pada bulan Oktober hingga Desember 2020.

Referensi

Diterbitkan

2025-01-28