MIC Karakteristik Penderita Deviasi Septum di RSUP Sanglah Periode Januari 2019 - Desember 2020
Kata Kunci:
Karakteristik Penderita Deviasi Septum di RSUP Sanglah Periode Januari 2019 - Desember 2020Abstrak
Hidung merupakan salah satu organ yang penting dalam tubuh manusia. Hidung merupakan salah satu organ indra yang dimiliki manusia. Hidung memiliki berbagai fungsi, diantaranya adalah fungsi respirasi, fungsi penghidu, fungsi fonetik, fungsi statik, dan refleks nasal. 1
Hidung tersumbat merupakan keluhan hidung yang paling sering membuat orang datang berobat, dimana deviasi septum nasi adalah penyebab yang tersering. Septum nasi merupakan struktur hidung yang secara anatomi dan fisiologi memiliki peran yang sangat penting. Secara anatomis septum nasi merupakan struktur penyangga hidung yang terletak dalam posisi lurus pada pertengahan kavum nasi dan dengan kondisi anatomis tersebut memungkinkan mekanisme fisiologis pertukaran udara, humidifikasi, serta proteksi udara pernapasan terjadi secara optimal. Pada umumnya, septum nasi pada orang dewasa tidak lurus sempurna di tengah atau mengalami deviasi. Kelainan septum berupa deviasi septum nasi memiliki nilai yang signifikan karena cukup berpengaruh terhadap sebagian besar permasalahan rinologis.1,2,3
Angka kejadian septum yang benar-benar lurus di tengah hanya sedikit dijumpai, dimana pada umumnya terdapat pembengkokan minimal atau terdapat spina pada septum nasi. Diperkirakan 75%-85% dari seluruh populasi dunia mengalami kelainan bentuk anatomi hidung dan yang paling banyak ditemukan adalah deviasi septum. Studi di Pakistan pada tahun 2011, terhadap pasien dengan deviasi septum memperoleh angka insiden sebesar 88% terjadi pada laki-laki dan 12% pada perempuan. Dari studi ini juga didapati 76% kasus disebabkan oleh trauma dan 24% kasus disebabkan oleh trauma pada saat lahir.1,2,3,5 Derajat yang bervariasi dari deformitas septum nasi terjadi pada saat lahir dan diperkirakan meningkat dengan bertambahnya usia. Hal ini dapat disebabkan oleh trauma pada
saat kelahiran paksa atau pengeluaran fetus pada jalan lahir yang sempit maupun trauma yang tidak disengaja.3,4,5
Diagnosis deviasi septum ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang seperti nasoendoskopi, rontgen sinus paranasal, tomografi komputer, Peak Nasal Inspiratory Flow (PNIF), rhinomanometry dan acoustic rhinometry dapat dilakukan untuk menilai struktur anatomi hidung, sumbatan hidung yang ditimbulkan, maupun komplikasi dari deviasi septum.6
Deviasi septum yang tidak menimbulkan keluhan subjektif, maupun penurunan secara objektif dari fungsi pernapasan hidung dikategorikan sebagai deviasi fisiologis. Sebaliknya, deviasi septum patologis dapat menimbulkan keluhan subjektif serta penurunan secara objektif dari fungsi pernapasan hidung. Penatalaksanaan deviasi septum sangat tergantung dari keluhan maupun komplikasi yang ditimbulkannya dan dalam beberapa kasus diperlukan prosedur pembedahan untuk melakukan koreksi terhadap deviasi septum yang bertujuan untuk perbaikan fungsi hidung maupun untuk tujuan estetik.3,6,7.
