Distribusi Penderita Rinosinusitis Kronik yang Mengalami Pembedahan di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar Periode Tahun 2020 - 2022

Penulis

Kata Kunci:

Distribusi Penderita Rinosinusitis Kronik yang Mengalami Pembedahan di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar Periode Tahun 2020 - 2022

Abstrak

Berdasarkan European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS) 2020, Rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi hidung dan sinus paranasal yang ditandai dengan dua gejala atau lebih, termasuk hidung tersumbat atau obstruksi atau kongesti atau keluarnya cairan dari hidung (anterior atau posterior nasal drip) disertai dengan nyeri wajah dan/atau penurunan sensitivitas pembau, bila terjadi ≤ 12 minggu dikatakan rinosinusitis akut dan bila ≥ 12 minggu dikatakan rinosinusitis kronik. Rinosinusitis adalah peradangan yang mengenai mukosa hidung dan sinus paranasal. Rinosinusitis kronik (RSK) merupakan penyakit yang sering dijumpai pada sebagian besar populasi di dunia yaitu berkisar 7-30%. 1 European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps tahun 2012 mengatakan bahwa 5-15% dari populasi masyarakat Amerika dan Inggris menderita rinosinusitis kronik.2

Gejala rinosinusitis kronik dapat timbul tanpa polip maupun dengan polip.2 Polip hidung telah dianggap sebagai bagian dari RSK dengan insiden 4% dari populasi pada umumnya dan 25-30% dari penderita  RSK.3 Diagnosis RSK

 

ditegakkan berdasarkan gejala maupun temuan klinis yang dijumpai selama minimal 12 minggu. Gejala-gejala penyakit ini dapat berupa hidung tersumbat, hidung berair, nyeri wajah, sakit kepala, hiposmia bahkan sampai dengan gangguan kualitas hidup. Temuan klinis seperti polip, sekret maupun obstruksi meatus media dapat dijumpai melalui pemeriksaan nasoendoskopi, sedangkan pemeriksaan tomografi komputer menunjukkan adanya perubahan mukosa.2

Berdasarkan laporan tahun 2001, lebih dari 35 juta orang dewasa Amerika menderita rinosinusitis dan dilakukan lebih dari 460.000 pembedahan sinus setiap tahun, sehingga pembedahan ini menjadi salah satu tindakan bedah yang paling sering dilakukan.4 Prevalensi rinosinusitis di Indonesia cukup tinggi, terbukti pada data penelitian tahun 1996 dari sub-bagian Rinologi Departemen THT-KL FK- UI/RSCM bahwa dari 496 pasien rawat jalan di sub-bagian ini didapati rinosinusitis kronik sebanyak 50%. Dari jumlah tersebut 30% mempunyai indikasi operasi.5

Berdasarkan latar belakang yang sudah dijabarkan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai distribusi penderita rinosinusitis kronik yang menjalani pembedahan di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar periode tahun 2020 sampai 2022.

Referensi

Diterbitkan

2025-02-02