KARAKTERISTIK PENDERITA NODUL TIROID YANG MENDAPATKAN PROSEDUR OPERATIF PADA DEPARTEMEN THT- BKL RSUP PROF. DR. I.G.N.G. NGOERAH PERIODE 1 JANUARI 2019 - 31 DESEMBER 2023
Kata Kunci:
KARAKTERISTIK PENDERITA NODUL TIROIDAbstrak
Nodul tiroid didefinisikan sebagai lesi atau benjolan yang terbentuk dalam kelenjar tiroid, yang terletak di bagian depan leher. Benjolan ini dibedakan dari jaringan parenkim tiroid yang mengelilinginya, yang merupakan jaringan fungsional dari kelenjar tiroid. Nodul tiroid dapat bervariasi dalam ukuran dan bisa berupa benjolan padat atau berisi cairan (kistik). Sebagian besar nodul tiroid bersifat nonkanker (jinak) dan tidak menimbulkan gejala apa pun.1 Namun, dalam beberapa kasus, nodul tiroid dapat bersifat kanker atau menimbulkan gejala seperti kesulitan menelan, benjolan yang terlihat jelas di leher, atau perubahan suara. Evaluasi medis, termasuk pemeriksaan fisik, tes pencitraan (seperti USG), dan kemungkinan biopsi (aspirasi jarum halus) disarankan untuk menentukan sifat dari nodul tiroid dan apakah perlu dilakukan pengobatan lanjutan atau pemantauan. Pemantauan nodul tiroid penting untuk mendeteksi perubahan ukuran atau karakteristik yang mungkin memerlukan investigasi atau intervensi tambahan. 1
Prevalensi nodul tiroid di dunia, didapatkan lebih tinggi dengan bertambahnya usia. Nodul tiroid terjadi 4 kali lebih sering terjadi pada wanita (5- 10%) dibandingkan pria (1-2%) pada populasi yang defisiensi yodium. Namun, angka kejadian kanker dua kali lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita (8%
berbanding 4%).1 Kejadian malignansi dikatakan 7% hingga 15% berhubungan oleh berbagai faktor risiko.2 Beberapa faktor risiko lainya terkait dengan riwayat radiasi tiroid. Penggunaan radiasi merupakan faktor resiko terbanyak untuk pertumbuhan nodul tiroid jinak ataupun ganas, angka kejadiannya mencapai 2% per tahun. Insidensi keganasan diketahui 20-50% pada nodul yang sebelumnya telah diradiasi. 3,4
Pravelensi nodul tiroid di Indonesia belum terdapat data spesifik, tiroid merupakan penyakit metabolik yang paling umum terjadi setelah diabetes mellitus. Meskipun belum terdapat data nasional yang spesifik mengenai kasus nodul tiroid di Indonesia, Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dapat berhubungan dengan kondisi hipertiroid atau hipotiroid.5
Berdasarkan anatomi dan fisiologi, kondisi kelenjar tiroid dapat dibagi menjadi struma difusa dan struma nodosa. Secara klinis, kondisi ini dibedakan berdasarkan sifatnya menjadi toksik dan non-toksik. Struma nodosa sendiri terbagi menjadi uninodosa (hanya satu nodul) dan multinodosa (lebih dari satu nodul). Berdasarkan fungsi kelenjar tiroid, kondisinya dapat dibagi menjadi hipotiroid (produksi hormon tiroid rendah), eutiroid (produksi hormon tiroid normal), dan hipertiroid (produksi hormon tiroid berlebihan). Struma yang tidak menunjukkan gejala hipertiroid disebut struma non-toksik. Berdasarkan hasil histopatologi (pemeriksaan jaringan), kondisi kelenjar tiroid dapat dibagi menjadi hiperplasia (pertumbuhan berlebihan jaringan), inflamasi, neoplasma jinak (tumor non- kanker), dan ganas (tumor kanker).6,7
Penting untuk melakukan evaluasi medis yang komprehensif oleh tenaga kesehatan yang berwenang untuk menentukan jenis struma dan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi klinis, fungsi tiroid, dan hasil histopatologi yang spesifik.
