Deteksi Rhinitis Alergi Berdasarkan Penilaian Kuesioner Score for Allergic Rhinitis (SFAR) pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Tahun 2023
Kata Kunci:
Deteksi Rhinitis AlergiAbstrak
Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi kronis yang terjadi pada mukosa hidung akibat pajanan dari allergen tertentu. Rhinitis alergi merupakan jenis hipersensitivitas tipe I yang diperantarai oleh immunoglobulin (Ig) – E. Provokasi zat alergen seperti debu tungau, kulit atau bulu hewan ataupun serbuk sari tanaman dapat memicu reaksi hipersensitivitas dan memunculkan manifestasi gejala diantaranya rhinorea, kongesti nasal, bersin-bersin dan pruritus pada daerah mata dan hidung.1
Hingga saat ini diperkirakan, rhinitis alergi telah dialami sebanyak 400 juta orang di seluruh dunia dan termasuk ke dalam penyakit yang umum ditemukan dalam komunitas. Dalam beberapa kurun waktu terakhir, peningkatan tren prevalensi penyakit ini diperkirakan sebagai akibat dari meningkatnya arus urbanisasi dan perubahan pola gaya hidup. Zat polutan, peningkatan emisi karbon maupun perubahan metode bercocok tanam dan efek rumah kaca yang berdampak pada pola penyerbukan tanaman tahunan ikut mempengaruhi sebaran penyakit ini.2
Sebanyak 40% dari total populasi dewasa dan 25% total populasi anak-anak diseluruh dunia diperkirakan mengalami kondisi rhinits alergi.
Usia puncak dari munculnya gejala penyakit ini berada pada rentang 20-40 tahun dan dialami oleh 80% total populasi. Sedangkan pada anak-anak rentang usia 0-5 tahun, sebanyak 17,2% mengalami rhinitis alergi dan terbanyak pada usia 24 hingga 29 bulan. Dilihat dari kelompok jenis kelamin, penderita rhinitis alergi pada kelompok usia anak didominasi oleh laki-laki, namun pada kelompok dewasa, dominasi pasien lebih banyak oleh kelompok perempuan.2,3
Dengan tingginya angka kejadian rhinitis alergi, menyebabkan munculnya berbagai masalah dan dampak pada aspek ekonomi dan sosial. Di Amerika Serikat pada tahun 2016 diperkirakan, pengeluaran biaya obat- obatan dari satu orang pasien dengan rhinitis alergi tanpa penyakit komorbid pada musim penyerbukan dapat mencapai 79 USD, sedangkan pasien yang mengalami serangan rhinitis alergi dengan komorbid asma akan memiliki pengeluaran mencapai 139 USD hanya untuk membeli obat-obatan setiap bulannya. Sedangkan di Korea Selatan, total pengeluaran langsung untuk rhinitis alergi dapat mencapai 224 juta USD setiap tahunnya.4 Pada aspek sosial, rhinitis alergi menyebabkan penurunan kualitas hidup dengan masalah yang muncul seperti gangguan tidur, rasa lelah saat bekerja, tidak fokus dalam menerima pelajaran sekolah, depresi, mudah marah, penurunan atensi dan produktifitas hingga defisit memori.5
Agar dapat dilakukan penangan yang adekuat, identifikasi kondisi rhinitis alergi perlu dilakukan sedini mungkin. Saat ini penggunaan kriteria diagnosis maupun kuesioner untuk penegakan diagnosis umum dilakukan pada beberapa peyakit. Berkenaan dengan rhinitis alergi, pada tahun 2002 kelompok studi Annesi-Maesano memperkenalkan dan memvalidasi kusioner Score for Allergic Rhinitis yang kemudian dikenal dengan SFAR. Kuesioner SFAR, adalah suatu sistem skoring kuantitatif untuk membedakan rhinitis alergi dan rhinitis non-alergi.6
Dalam kuesione SFAR, terdapat total 8 komponen pertanyaan yang menilai (1) gejala rinitis; (2) mata gatal; (3) alergen yang memicu gejala hidung (4) bulan atau musim biasanya gejala muncul; (5) status alergi yang
dirasakan; (6) hasil tes alergi sebelumnya; (7) diagnosis alergi sebelumnya oleh tenaga medis profesional; dan (8) riwayat alergi keluarga. Setiap pertanyaan dengan jawaban positif akan diberi bobot akor 1 atau 2 dengan skor total 0–16 nilai. Cut-off ≥ 7 ditemukan paling baik dalam membedakan antara rhinitis alergi dan rhinitis non-alergi dengan sensitivitas 74%, spesifisitas 83%, nilai prediksi positif 84%, dan nilai prediksi negatif 74%.6
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kondisi rhinitis alergi yang dideteksi menggunakan kuesioner SFAR pada lokasi penelitian, serta mendalami lebih lanjut mengenai pendekatan dan penanganan rhinits alergi sesuai dengan rekomendasi terbaru untuk dapat diimplementasikan dalam praktik di masyarakat.
